Amunisi Ampuh Untuk Perkembangan Anak

“Setiap orangtua menjadi tokoh sentral dalam perkembangan anak-anak dalam setiap aspek kehidupannya kelak. Untuk itu, orangtua perlu memiliki amunisi yang benar-benar bisa efektif untuk mendampingi perkembangan anak-anak kita. Salah satu amunisi yang paling berperan penting kita tahu bernama BUKU.” –Jenderal Gagah Quote

Jenderal Gagah sebagai Orang Tua dan Saya sebagai Konsultan Buku Anak sekaligus Owner Gerai Buku Anak merekomendasikan beberapa buku anak yang berkualitas dan pas untuk dibaca anak-anak, diantaranya:

Buku-Buku Terbitan Mandira Dian Semesta (MDS): (Silahkan diklik linknya ya)

1. Halo Balita (untuk umur 0-5 Tahun)
img-20170118-wa0035
2. Seri Teladan Rasulullah (untuk umur 0-5 Tahun)
img_20170118_153441
3. Wow Amazing Series (untuk umur 2-5 Tahun)
img-20170118-wa0023
4. Seri Dunia Binatang (untuk umur 2-5 Tahun)
img-20170118-wa0077
5. Wonderful Al Qur’an (untuk umur 2-5 Tahun)
img_20170118_153431
6. Funtastic Learning (untuk umur 3-6 Tahun)
img-20170118-wa0024
7. Confidence In Science (untuk umur 3-8Tahun)
img_20170118_153418
8. Ensiklopedi Bocah Muslim (untuk umur 3 Tahun – Remaja)
img-20170118-wa0078

Buku-Buku Terbitan Grolier: (Silahkan diklik linknya ya)

1. Fun Thinker (untuk usia 2-5 tahun)
img-20170106-wa0037
2. Aku Ingin Tahu Mengapa (untuk umur 3-12Tahun)
img-20170109-wa0018
3. Logico Primo (untuk umur 2-3 Tahun)
img-20170118-wa0135
4. Logico Piccol0 (untuk umur 4-6 Tahun)
img-20161231-wa0010
5. Logico Maximo (untuk umur 7-10 Tahun)
img-20161231-wa0008

Buku-Buku / Doll Terbitan Al Qolam:

1. Hafiz/Hafizah Talking Doll (Untuk umur 0 Tahun -Dewasa)
img-20170109-wa0004
2. Widya Wiyata Pertama (WWP) (untuk umur 3 Tahun – Dewasa)
img-20170111-wa0018
INFO PEMBELIAN (Cash/Cicilan/Arisan):

Desti Raisa
WA: 0882 1276 2437
Line: Idesta
FB: Desti Raisa
Instagram : @Idestiraisa
FP: Gerai Buku Anak

Manfaat Membacakan Buku kepada BALITA

image_1

Menurut Dra. Nina Armando, M.Si., pengajar di Departemen Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Indonesia, ada beberapa manfaat yang dapat dipetik melalui aktivitas membacakan cerita ke balita, antara lain:

1. Ada nilai-nilai yang dapat disampaikan kepada bayi.

Manfaat membacakan cerita yang pertama, melalui cerita, nilai-nilai positif dapat tersampaikan. Bayi akan merekam pesan moral dari sebuah cerita dan kelak bisa menjadi filternya saat berperilaku. Contoh, cerita si kancil dan buaya; si cerdik kancil berhasil mengelabui buaya yang semula akan memangsanya. Pesan yang ditekankan dalam cerita itu adalah meski sudah terjepit dalam posisi yang bahaya, kancil tetap memiliki banyak akal. Agar terekam dengan baik dalam memori bayi, cerita itu dapat dituturkan berulang kali padanya, menjelang tidur malam, misal. Jangan takut bayi akan merasa bosan karena dibacakan cerita yang itu-itu saja; bayi justru belajar banyak dari pengulangan.

2. Mengembangkan keterampilan bahasa.

Sedangkan manfaat membacakan cerita yang kedua, saat dibacakan cerita, secara tak langsung bayi mempelajari perbendaharaan kata dan intonasi suara. Meski awalnya belum bisa mengikuti cerita atau dialog, secara bertahap bayi akan belajar mengembangkan imajinasinya, menghubungkan antara gambar, peristiwa, tindakan, dan objek dengan kata-kata yang digunakan untuk mendeskripsikannya. Bayi juga akan belajar tentang suatu objek, warna, angka, dan bentuk suatu benda.

3. Menumbuhkan kelekatan dengan ayah/ibu.

Ketika membacakan cerita, biasanya kita lakukan sambil memangku dan memeluk bayi. Posisi bercerita seperti ini dapat menjalin kelekatan antara orangtua dan anak. Kelekatan ini menimbulkan rasa aman dan nyaman pada bayi dan kelak akan menjadi modal untuknya tumbuh menjadi anak yang percaya diri.
.
4. Mengembangkan keterampilan motoriknya.

Desain buku-buku khusus bayi yang umumnya dibuat se-imut mungkin—dilengkapi gambar-gambar dengan warna menyala bahkan ada yang disertai dengan bunyi-bunyian—akan mendorong keingintahuan bayi untuk meraih lalu menggenggam buku tersebut. Ini secara tak langsung akan membuat buku menjadi media stimulus motorik halusnya. Agar lebih aman pilih buku-buku khusus untuk bayi karena umumnya buku tersebut lebih tebal sehingga tidak mudah sobek dan tidak memiliki sudut runcing yang dapat melukai bayi. Inilah manfaat membacakan cerita lain yang mengagumkan.
.
5. Memberikan pengetahuan baru.

Berbagai gambar dan jalinan cerita dalam buku memberikan informasi baru bagi bayi. Meski belum pernah melihat secara langsung, ia menjadi tahu seperti apa itu pohon beringin, tahu bentuk buah pulm, dan bagaimana “gondrongnya” rambut si raja hutan, singa.

6. Memaksimalkan kecerdasan bayi.

Untuk menerima, menangkap, memahami dan menyimpan informasi-informasi dari cerita yang disampaikan dalam memori, otak anak harus bekerja lebih aktif. Stimulasi ini akan membuat simpul-simpul saraf di otak kian banyak tersambung sehingga kecerdasan bayi berkembang dengan baik. Manfaat membacakan cerita: Bayi jadi lebih pintar.
.
7. Menanamkan cinta buku.

Membacakan cerita berarti telah mengenalkan sebuah benda bernama buku kepada sang buah hati. Pengenalan ini tak mustahil akan memunculkan kecintaannya terhadap buku, dan selanjutnya menumbuhkan keinginannya untuk bisa membaca dan menulis. Inilah manfaat membacakan cerita yang lain.

Selamat membacakan cerita…!

MENGEJAR SURAT RUJUKAN (BPJS) PERSALINAN DI RSPAD

Saat kehamilan kedua tiba, tiba pula keinginan mencoba fasilitas layanan BPJS yang merupakan satu-satunya fasilitas asuransi kesehatan yang diberikan kepada Pegawai Negeri Sipil (PNS). Tentu tidak gratis, setiap PNS wajib mengeluarkan iuran dari Gaji Pokoknya yang salah satunya bermuara ke BPJS, namun memang pembayarannya tidak sama dengan peserta mandiri, sebagian iuran ditanggung oleh Negara sebagai bentuk perhatian kepada kesejahteraan (kesehatan) PNS.

Kenapa keinginan itu ada pd saat kehamilan kedua? karena yaa saya kan baru jadi PNS baru-baru ini, hehe..rasanya sayang aja, BPJS yang sudah saya bayar itu tidak dimanfaatkan, mengingat sudah pasti persalinan kehamilan kedua ini harus dengan SC kembali, sama dengan persalinan yang pertama. Kenapa SC lagi? karena jarak kehamilan saya terlalu dekat dengan kehamilan yang pertama, yakni
8 bulan setelah melahirkan anak pertama.

Apa hubungannya SC dengan BPJS? Pertama, persalinan dg SC yang akan ditanggung oleh BPJS sudah pasti dilaksanakan di RS. Sedangkan Persalinan normal yang ditanggung BPJS adalah persalinan yang dilangsungkan di Puskesmas atau fasilitas kesehatan (faskes) tingkat pertama / bukan di RS). Biaya yang ditanggung oleh BPJS bisa sebagian atau mencapai keseluruhan biaya lho…lumayan kaaaaan??? maka saya tertarik dengan Fasilitas BPJS ini.

Nah, perjalanan panjang akan dimulai dari sini….

buang napas dulu, fiuuuh…

Perjalanan pertama – mencetak kartu BPJS.

Kenapa mencetak bukan mendaftar? pada dasarnya PNS sudah terdaftar secara otomatis dalam kepesertaan BPJS, namun perlu mendatangi kantor BPJS setempat untuk mendapatkan kartu keanggotaan BPJS dengan membawa beberapa syarat yang salah duanya adalah copy SK Pengangkatan CPNS/PNS dan Surat Keterangan Gaji (Pokok). Mengingat kesibukan berkantor, kehamilan mendekati persalinan, juga ada beberapa teman sejawat di biro kami belum mendaftar, maka saya berinisiatif untuk meminta bantuan Biro SDM untuk membantu mencetak-kan kartu BPJS. Setelah berkoordinasi dg berbagai pihak dan mengumpulkan dokumen persyaratan, akhirnya setelah dua bulan, dapat kami miliki itu kartu BPJS. yeay!

Perjalanan kedua – mendatangi Faskes I sesuai yang tertera pada kartu BPJS.

Hikssss, faskes I pertama saya di RSPAD Gatsu, Jakarta Pusat sedangkan domisili di bilangan daerah Jakarta Selatan. Berhubung kala mengurus pencetakan BPJS tidak mengisi faskes I yang diingini di formulir pendaftaran BPJS. Akhirnya semua dipukul rata oleh SDM dengan faskes I RSPAD Gatsu, dan baru bisa diubah 3 bulan kemudian. Sedangkan, kandungan sudah berumur 7 bulan lebih.

yasudah, nasib itu kami terima.

Bersama suami saya datang ke RSPAD untuk mencoba si kartu BPJS. Sampai di lokasi, ternyata oleh security di sana, diarahkan ke lakesgilut ditkesat RSPAD (Faskes I RSPAD). Letaknya sudah di luar area RSPAD, tetapi masih dekat. Saya kiraaaaa, boleh langsung ke RSPADnya, karena di kartu tertera faskes I nya adalah RSPAD (sudah girang duluan, hahaha) ternyata yang dimaksud berbeda.

Sampailah kami pada Faskes I, di sana diperiksa dengan alat seadanya, dan ditanya-tanya oleh seorang bidan seperti di wawancarai. Kesimpulannya, saya harus kembali ke lakesgilut pada bulan depan untuk mendapatkan surat rujukan ke Faskes II, yaitu RS Ridwan Meureksa, dari sana nanti akan dirujuk lagi ke Faskes III (RSPAD) jika ada keluhan yang tidak ditangani oleh Faskes II. Dari Lakesgilut ini, kami harus menunggu 1 bulan lagi untuk mendapatkan surat rujukan ke faskes II.

Perjalanan ketiga – mendatangi Faskes II

Satu bulan kemudian, saya dan suami sudah berada di RS Ridwan setelah mendapatkan surat rujukan dari Faskes I pada hari yang sama, pukul 08.00. Karena datang sebagai peserta baru, kami harus mendaftar dl ke bagian administrasi khusus PNS. setelah itu untuk mengantri, bergabung dengan pasien lain yang non PNS. Setelah mengantri kurang lebih 3 jam, akhirnya kami mendapatkan berkas yang harus diisi, setelah itu diperkenankan masuk ke ruangan RS. Jadi selama 3 jam tadi kita masih di luar RS, gedung khusus pendaftaran.

Setelah menyusuri kabin2, betapa kagetnya ternyata di dalam pun masih ada antrian yang mana di dalam ruangan poli juga terdapat antrian berkas. Subhanallah. Fiuuuh…demi surat rujukan, tidak apalah untuk mengalah pikir kami..

Pukul 13.30 kami baru dipanggil ke ruangan poli, ditanya terkait data diri dan riwayat kehamilan, diperiksa perutnya, ditimbang berat badannya, kemudian diperkenankan keluar lagi untuk antri dokter. Ternyata yang tadi itu antri bidan. Fiuuuuuh…

Pukul 14.00 nama saya baru dipanggil, ditemani oleh 3 dokter muda yang keliatannya sedang praktik. Ya Allah, ternyata dokternya sedang istirahat. Malah sudah pulang. Dengan alat USG yang ngadat, dan dokter muda yang masih amatir (sepertinya mahasiswa praktek), perut saya diudek2 dg alat USG hanya untuk mengetahui dmn letak dan jenis alat kelamin si janin. Fiuuuuhhh….(si pak suami, sampe jengkel liat istrinya diudek2)

Sampai pd akhirnya, ketika saya mengajukan permohonan surat rujuk ke RS Harapan kita dg alasan lbh dekat dg rumah, tidak dikabulkan, tidak bisa di rujuk ke Faskes III. Karena bagi mereka, kondisi saya masih bisa ditangani di RS Ridwan (Faskes II). Hiks. pupus sudah harapan saya melahirkan sang janin di Harapan Kita dengan fasilitas BPJS.

Kegagalan kami mendapatkan surat rujukan, bayangan kami terhadap ruang bersalin yang tidak sengaja kami lewati saat menuju poli bidan, serta para dokter Obgyn yang ada di RS ini laki-laki semua (ditemani pula dengan dokter-dokter muda itu). Semakin kuat sudah keputusan saya untuk melahirkan di RS tempat anak pertama saya lahir, yang tentu saja dicover dengan asuransi suami.

+++++

Begitulah perjalanan kami mengejar surat rujukan. Hiks

Akibat pengalaman ini, kami berniat akan merubah faskes I. Dari RSPAD (insyaAllah) akan ke Puskesmas. Walaupun dokter di sana galak, paling tidak, mereka tidak segan memberikan rujukan ke RS yang lebih baik pelayanannya dan lengkap peralatannya.

Kehamilan Kedua, SC Kedua (part I)

Tidak ada yang menyangka mengenai kehamilan kedua ini, termasuk saya dan suami. Karena memang target anak kedua adalah setahun setelah kelahiran pertama, namun Allah berkehendak lain. Allah kembali menitipkan amanah kepada kami 8 bulan setelah kelahiran pertama, 4 bulan lebih awal dari yang direncanakan. Takdir Allah memang selalu di atas rencana manusia.

Hal ini menjadi sesuatu yang membuat kami kaget, senang, sekaligus waswas. Ups waswas? yaps, mengingat kelahiran pertama dilalui dengan jalan Sectio Caesar (SC), wajar saja kami menjadi waswas. Luka luar memang sudah kering, namun luka dalam perlu waktu agak lama untuk kering/fit untuk hamil kembali. Selain itu waswas kami berkaitan dengan seperti apa kesibukan kami nanti dalam merawat dua anak yang masih krucil-krucil, hehehe. Belum lagi pengasuh anak Pertama yang masih nomaden (ganti2, paling lama sebulan, hiks). Kalau rezeki? insyaAllah akan ada yang menjamin rezeki makhluk-Nya ;).

Yang kaget pun bukan hanya kami, ortu kami, keluarga besar kami, kawan kantor, bahkan orang yang baru dikenal sekalipun. Hehhe, karena bagi mereka jarak kehamilan ini dinilai terlalu dekat, dan kebetulan hanya saya yg memiliki jarak kehamilan seperti ini (di keluarga) apalagi riwayat kelahiran pertama dilakukan dengan SC. Ya tidak apalah shocking therapy sedikit, hehehe.

Dengan berbekal keyakinan, untuk saat ini kami menjalankan ini semua dengan happy. Biarlah waswas lewat bgitu saja tanpa harus dipikir mendalam. Mari kita kerjakan hal-hal yang menyenangkan dan berkontribusi untuk segala amanat yg ada di pundak kita saat ini 😉

++++

tulisan di atas dibuat sebelum saya lahiran anak kedua, seingat saya sekitar hamil 6-7 bulan. Semakin mendekati persalinan, rasa was-was saya semakin meningkat, kadang turun seiring dengan hiburan dari teman-teman dan suami. Sampai akhirnyaa..

ENG ING ENG

Alhamdulillah telah lahir anak kedua kami dengan sempurna (Alhamdulillah, Allahu Akbar) dengan Persalinan SC. Berat 2.85kg dan panjang 49cm, jenis kelamin perempuan.

Hari ini, saya sudah dinas kerja seperti biasa, bayi kedua saya memasuki umur 3 bulan, 2 Agustus nanti ^^

Anak Kami, Penentram Hati Kami

Setiap kali bangun tidur pagi hari, selalu ditemani dengan senyum manis anak ganteng. Entah kenapa ini bocah selalu berbagi senyuman kepada abi dan umminya. Pun jika abi dan umminya belum bangun dan menatap matanya, selalu ada cara dia untuk membuat abi dan umminya membuka mata dan menatap wajahnya. Selalu selalu dan selalu. Aduhai nak, senyummu pelita hati kami, pelita hidup kami, qurrota ayyun kami, penentram hati kami…

Yaa, saat-saat paling manis bersama sang anak bagiku disaat pagi hari si ganteng membuka matanya. Apapun yang kita maui, pasti langsung dikabulkan, “kiss pipi ummi dunk”, langsung lengkap di kiss. “kiss pipi abi tuh, sekalian bangunin abi”, dengan sigapnya langsung menuju abi dan menubruk dan meng-kiss pipinya. “Peluk ummi dunk”, langsung dipeluk. Aduuh, manisnya anak Ummi Abi…Bukan berarti di waktu lain menolak kiss atau peluk, tapi biasanya diluar waktu itu dia lebih sibuk mainannya, jadi agak susah klo minta kiss dan peluk, hehehehe…walaupun selalu nempel sama ummi dan abinya.

Robbanaa hablana min azwaajina wadzurriyaatina qurrota a’yun, waj’alnaa lil muttaqiina imaama. Artinya, Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami, pasangan hidup dan keturunan yang menenangkan hati bagi kami dan jadikanlah kami pemimpin orang-orang yang bertaqwa (QS. al-Furqan : 74).

* Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu ‘Anhu  berkata: “Qurrota a’yun maksudnya adalah keturunan yang mengerjakan ketha’atan, sehingga dengan ketha’atannya itu membahagian orang tuanya di dunia dan akhirat.”

** Imam Hasan Al-Bashri ketika ditanya tentang makna ayat di atas, beliau berkata, “Allah akan memperlihatkan kepada hambanya yang beriman, demi Allah tidak ada sesuatupun yang lebih menyejukkan pandangan mata seorang muslim dari pada ketika dia melihat anak, cucu, saudara dan orang-orang yang dicintainya tha’at kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.”

Ibu Hamil Merepotkan (?)

Baru saja membaca sebuah catatan-catatan blog beberapa perempuan mengenai Ibu Hamil yang menggunakan kendaraan umum, khususnya Commuter Line (CL). Sejujurnya ternganga karena saya pun tidak menyangka bahwa perempuan-perempuan penulis blog ini menyesali dengan pilihan ibu hamil yang menggunakan CL pada saat jam kerja/padat.

Walaupun sempat terlintas di benak saya, “harusnya Ibu Hamil menaiki angkutan umum selain CL karena memang tidak kondusif dan tidak aman”, tetapi saya selalu meralatnya di dalam hati dan otak, “ah dia sama dengan kita yang capek lelah bekerja membantu pembangunan ekonomi keluarga, Ingin cepat pulang sampe di rumah”. Alasan-alasan yang sama dikemukan oleh para perempuan penulis blog itu. Para ibu hamil itu seharusnya tidak naik CL pada jam padat, karena perempuan non hamil lelah, capek, pengen cepet pulang, berjuang berebut kursi, tapi harus “diganggu” dengan ibu hamil.

Alasan lain yang dikemukan adalah seharusnya ibu hamil itu ditanggung oleh suaminya atas kesusahan-kesusahannya. Harusnya suaminya lah yang menjemput, suaminya yang mengantar, suaminya lah blab la bla. Saya jg sempat berpikir demikian, tapi lagi-lagi saya meralat, kebetulan juga saya mengalaminya sekarang. Bukan tidak mau menjemput, sampai sekarang suami saya bersikeras untuk menjemput saya, namun belum saya izinkan dengan alasan waktu yang dicapai untuk pulang makin bertambah, ya otomatis akan pulang terlambat, padahal di rumah anak sudah menunggu. Belum lagi masalah macet, polusi, dan ketidak efisienan lainnya yang kalau diambil langkahnya oleh ibu hamil malah makin “susah”. Alangkah kurang bijaknya pula jika menyalahkan suami para ibu hamil.

Ada juga solusi yang ditawarkan adalah berangkat lebih pagi, pulang lebih akhir. Ya keleees Ibu Hamil dibedakan dari keinginan-keinginan para ibu-ibu penulis. Ibu Hamil juga punya keinginan sama dengan ibu-ibu terhormat itu. Pengen cepet sampai di rumah. Kalau berangkat pagi, sepagi apapun ya CL akan tetap penuh saya kira, masa disuruh nungguin kantor. Ya walapun ide ini bisa diterapkan juga sih…tapi…ah sudahlah.

Yang lebih mencengangkan, ternyata para penulis sudah mengalami hamil juga. Saya mengiranya belum, karena ya wajar saya kalau belum merasakan. Eh ternyata…

Sempat terlintas, dimana empati mereka, dari segi manapun ibu hamil tidak bisa di toleransi lagi prioritasnya. Mereka para ibu manusia, tengah mengandung manusia di dalam rahimnya. Yang mungkin kelak manusia yg akan dilahirkan tersebut bersinggungan dengan kita, bahkan yang akan menolong/menyelamatkan kita atau ummat, bahkan bisa saja membuat kebijakan yang lebih baik lagi bagi para langganan CL.

Sampai akhirnya, setelah saya renungi, saya jadi merasa bersalah sebagai ibu hamil atau mewakili para ibu hamil lainnya, apakah kami semerepotkan itu ya. Baiklah, mungkin saya pun lebih mengadaptasi apa keinginan-keinginan para ibu terhormat itu setidaknya untuk tidak merebut apa yang mereka sudah dapat. Dan tentu saja, sejak awal kehamilan saya, saya tidak pernah meminta, sampai akhirnya pernah pingsan dikit :D.

Menjadi Istri Shalihah

Pengajian Majelis Ta’lim Dharmawanita Sekretaris Jenderal Kemenkeu

Dalam rangka menyambut Tahun Baru Islam 1436 H

Selasa, 21 Oktober 2014, Lt. 18 Juanda 1, Sekretaris Jenderal

Pk. 09.00 – 12.00 WIB, oleh Ustadzah Fathia

Menjadi Istri yang Shalihah

Hijrah/Muharram menjadi momen yang tepat untuk hijrah. Hijrah berarti menuju hal-hal yang baik dan meninggalkan hal-hal yang kurang baik.

Bagi wanita karir baik yang sudah menikah (menjadi istri) maupun belum menikah (lajang), dalam momen Muharram/Tahun Baru Islam ini perlu berhijrah. Adapun hijrah yang harus dilakukan:

  1. Hijrah Aqidah/Hijrah Keyakinan
  • Tanamkan bahwa Allah adalah Maha/Segala-galanya. Jangan percaya dengan ramalan zodika atau hari penetapan hari baik . Percayalah bahwa semua hari itu baik, isi dengan amalan-amalan yang berpahala dan pahala sehingga yang lahir adalah kebaikan. Penilaian hari berdasarkan sikap kita sendiri. Jika kita mengisinya dengan kebaikan maka menjadi hari baik, jika mengisi dengan keburukan, jelas menjadi hari buruk. Nilailah hari sesuai dengan amalan kita sendiri.
  • Keyakinan bahwa Allah tidak pernah luput melihat amalan kita. Tidak perlu melapor ke anak (duh nak, mamah cape nak, capek…..) atau ke suami (kamu ga tau kan perjuangan aku ngejar absen gimanaaaa…). Yakinlah ketika mereka tidak merasakan apa yang kita rasakan, maka masih ada Allah yang benar-benar tahu detail “penderitaan” kita. Melapor ke Allah saja, jika kita banyak mengeluh maka akan mengikis amal pahala kita sendiri.
  • Anggap apa yang sudah kita berikan menjadi pancingan rezeki dari Allah. Memancing dengan umpan teri ya akan dapat ikan teri, memancing dengan umpan kakap ya akan dapat ikan kakap.
  • Jangan berlindung diri kepada Jin. Karena level jin berada di bahwa manusia. Bahkan jin berkomentar dalam Surat Jin, “Sesungguhnya banyak manusia berlindung kepada kami sehingga membuat kami menjadi GR dan membuat manusia semakin tersesat.”
  1. Hijrah Pemikiran

Menjadi istri sholehah dengan cara :

  • Menyenangkan suami – ekspresikan dengan kecantikan diri, sehingga menjadi enak dipandang oleh suami, mengeksplor kecantikan di rumah, bukannya di luar rumah. Bermanja dan curhat sama suami sendiri bukan sama suami orang. Tidak bersuara/bergaya dengan lebay dan mesra pada orang lain.
  • Perluas makna ibadah. Merubah pikiran bahwa ibadah bukan hanya sekedar sholat, puasa, haji, tapi jadikan aktivitas apapun itu menjadi ibadah. Jadikan peluang/waktu yang ada untuk ibadah kebada Allah. Termasuk bekerja di luar rumah diniatkan untuk ibadah.
  • Sikapi anak dan suami dengan kasih sayang (menjadi ibu penyayang), mau bekerja anak dielus kepalanya bukan malah dimarahi atau mau disentil kalau nangis ketika ibunya mau berangkat kerja. Begitu juga dengan suami, masa sama suami orang ramah dan santun tapi dengan suami sendiri galak dan cuek. Apalagi ketika hamil, jangan dijadikan peluang untuk ngerjain suami, tapi jadikan sebagai peluang untuk ibadah.
  • Tawadzun antara bekerja di luar dengan rumah. Tugas utama istri adalah menyenangkan suami, maka ketika mau kerja izin dulu dengan suami. Karena kita bukan siapa-siapa tanpa izin suami. Jangan pernah bangga punya penghasilan besar sedangkan izin kerja kita dari suami.
  • Anggap gaji istri adalah rezeki anak yang dititipkan oleh Allah kepada kita. Pahala memberi kepada anak, suami, kakak, adik dsb menjadi 2x, pertama pahala infaq/sedekah, kedua pahala silaturahim.
  • Tebar kebaikan karena kita tidak tau kebaikan mana yang bisa mengantarkan kita ke Syurga. Jangan pernah menganggap remeh apa (kebaikan) yang kita lakukan.
  1. Hijrah Khuluq/Hijrah Akhlaq
  • Adab Bertamu — Rasulullah ketika bertamu, setelah mengetuk pintu rumah tamunya selalu membelakangi pintu atau tidak pernah mengintip ke dalam rumah melalui kaca jendela atau lubang intipan dari pintu. Karena Rasulullah ingin menjaga atau memastikan bahwa si tamu dalam keadaan yang layak (baik) untuk menerima tamu. Misalnya tidak sedang buka jilbab, atau sedang menggunakan pakaian santai.
  • Adab terhadap Suami — Menerima nasihat suami dengan lapang, bukan malah balik menasihati atau ngomen “ah kamu juga begitu, dsb.
  • Adab terhadap orang lain — Setiap orang memiliki hak atas kita. Hak istri/suami/anak terhadap suami/istri/orangtuanya. Maka harus segera ditunaikan yang menjadi hak-hak orang lain (kewajiban kita).
  • Adab Makan — Gunakan tangan kanan saat makan, bukan dengan tangan kiri. Makan dengan tangan kiri berarti mengikuti langkah syaitan. Serta habiskan makanan yang sudah diambil, karena letak keberkahan sebuah makanan ada pada sisa terakhir.
  1. Hijrah Perasaan
  • Sensitif terhadap anak yatim yang tidak mampu.
  • Saling mengasihi dan menyayangi antar sesama. Beruntunglah orang-orang yang penuh kasih dan cinta, karena mereka akan menuai banyak kasih dan cinta juga.
  • Banyak mengelus kepala anak, mengusapnya.

Hijrah itu bukan hanya hijrah tempat, tapi hijrah meninggalkan sesuatu yang kurang baik menjadi baik.

Semoga bermanfaat.