Saat Menjadi IDOLA

Menjadi idola bagi sebagian orang lain mungkin menjadi sebuah kebanggaan. Namun tidak sedikit juga yang merasakan sebaliknya, menjadi idola merupakan sebuah mimpi buruk, merasa terganggu dengan elukan dan sikap para penggemarnya. Saya pribadi tidak menganggap menjadi idola menjadi kebanggaan atau momok buruk. Semua berpulang kembali bagaimana kita menyikapi posisi kita yang menjadi idola. *tsah sok jadi idola 😀

Idola tercipta tidak dengan sendirinya. Ada beberapa faktor yang menjadikan seseorang menjadi idola, misalnya faktor keturunan (darah biru, ortu kaya, ortu pejabat, dsb) dan faktor (dititipkannya oleh Allah) keunggulan diri (fisik yang bagus, pintar orasi, cerdas dan pintar akademis, multibahasa, pemimpin organisasi, berbakat pada suatu bidang termasuk entertainment, berani dan gagah perkasa *tsah, soleh/ah, dan keunggulan lainnya). Ada orang-orang yang mengusahakan dengan keras untuk menjadi idola bahkan sampai gila (hormat), ada juga yang dia menjadi idola bukan karena keinginan sendiri, tapi tumbuh begitu saja seiring dengan perkembangan usia dan kematangan jiwa dan pribadi yang tentunya diikuti dengan kelebihan (titipan Allah tadi).

Mengidolakan seseorang bukan juga serta merta tanpa sebab. Tapi ada semacam chemistry yang
di rasakan, ada kesukaan, ketakjuban, kesamaan visi-cita-pemikiran, keinginan menduplikasi (mengikuti jejaknya) bahkan keinginan memiliki (>_<). Datangnya bisa spontan bisa bertahap.

Ngomong-ngomong idola, saya merasa pernah menjadi idola (jieh jieh susah suit). Saya tidak mengklaim sendiri, tapi orang-orang lain-lah yang mengklaim hal tersebut (ehem ehem). Saya tidak yakin jadi idola karena saya cuma seorang wanita yang tidak memiliki bawaan faktor keturunan, apalagi cantik (duh), cuma peraih nilai akademis yg pas-pas-an (:p), Cuma seorang pemimpin organisasi di bidang perempuan dan bejibun kekurangan saya. Yang saya yakin, saya dekat dengan banyak perempuan-perempuan di kampus :D.

Saat itu, entah sadar atau tidak menjadi idola, saya tidak terlalu memikirkan hal tersebut, yang saya pikirkan saat itu Cuma ngejar target program kerja full barokah (aamiin) dan pahala (insyaAllah) di organisasi-organisasi yang saya pimpin baik dalam lingkup yang kecil maupun luas. Saya jg membatasi diri dari hal keluh mengeluh atau aktivitas “perasaan” lainnya di media social. Saya juga menghindari pembicaraan “jodoh-jodohan” ala anak kampus :p, bahkan saya cenderung bodoh menilai perasaan lope lope itu :p (maaf yah), menghindari curhat ala anak alay :p apalagi lawan jenis apalagi pake jaringan segala, tebar keluh kesah ke sana kemari ,oh no way! bahkan saya menciptakan wanita galak pada diri saya sendiri (terhadap lelaki. yeah kadang perempuan klo ada yg nakal :D), saya cenderung berani dan PD untuk tampil kedepan kalau memang yang saya yakini benar, klo ga bener saya ga akan maju :p, dan saya berharap benar bahwa saya jg tidak terlalu suka memamerkan kelebihan, biar orang lain sahaja yg menilai.

Soal mengidolakan, tentu saja saya punya idola di setiap jenjang pendidikan (yg sayangnya Cuma ada di dalam hati, hehe). Dan saya hanya dapat bersikap biasa saja, sekalipun idola tsb ada di dekat saya dan walaupun mgkn idola tsb jg mengidolakan saya juga, huehehe..

usst, btw, saya akhirnya malah menikahi seorang laki-laki yg jadi idola di wilayah sekitarnya >_<

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s