Ibu Hamil Merepotkan (?)

Baru saja membaca sebuah catatan-catatan blog beberapa perempuan mengenai Ibu Hamil yang menggunakan kendaraan umum, khususnya Commuter Line (CL). Sejujurnya ternganga karena saya pun tidak menyangka bahwa perempuan-perempuan penulis blog ini menyesali dengan pilihan ibu hamil yang menggunakan CL pada saat jam kerja/padat.

Walaupun sempat terlintas di benak saya, “harusnya Ibu Hamil menaiki angkutan umum selain CL karena memang tidak kondusif dan tidak aman”, tetapi saya selalu meralatnya di dalam hati dan otak, “ah dia sama dengan kita yang capek lelah bekerja membantu pembangunan ekonomi keluarga, Ingin cepat pulang sampe di rumah”. Alasan-alasan yang sama dikemukan oleh para perempuan penulis blog itu. Para ibu hamil itu seharusnya tidak naik CL pada jam padat, karena perempuan non hamil lelah, capek, pengen cepet pulang, berjuang berebut kursi, tapi harus “diganggu” dengan ibu hamil.

Alasan lain yang dikemukan adalah seharusnya ibu hamil itu ditanggung oleh suaminya atas kesusahan-kesusahannya. Harusnya suaminya lah yang menjemput, suaminya yang mengantar, suaminya lah blab la bla. Saya jg sempat berpikir demikian, tapi lagi-lagi saya meralat, kebetulan juga saya mengalaminya sekarang. Bukan tidak mau menjemput, sampai sekarang suami saya bersikeras untuk menjemput saya, namun belum saya izinkan dengan alasan waktu yang dicapai untuk pulang makin bertambah, ya otomatis akan pulang terlambat, padahal di rumah anak sudah menunggu. Belum lagi masalah macet, polusi, dan ketidak efisienan lainnya yang kalau diambil langkahnya oleh ibu hamil malah makin “susah”. Alangkah kurang bijaknya pula jika menyalahkan suami para ibu hamil.

Ada juga solusi yang ditawarkan adalah berangkat lebih pagi, pulang lebih akhir. Ya keleees Ibu Hamil dibedakan dari keinginan-keinginan para ibu-ibu penulis. Ibu Hamil juga punya keinginan sama dengan ibu-ibu terhormat itu. Pengen cepet sampai di rumah. Kalau berangkat pagi, sepagi apapun ya CL akan tetap penuh saya kira, masa disuruh nungguin kantor. Ya walapun ide ini bisa diterapkan juga sih…tapi…ah sudahlah.

Yang lebih mencengangkan, ternyata para penulis sudah mengalami hamil juga. Saya mengiranya belum, karena ya wajar saya kalau belum merasakan. Eh ternyata…

Sempat terlintas, dimana empati mereka, dari segi manapun ibu hamil tidak bisa di toleransi lagi prioritasnya. Mereka para ibu manusia, tengah mengandung manusia di dalam rahimnya. Yang mungkin kelak manusia yg akan dilahirkan tersebut bersinggungan dengan kita, bahkan yang akan menolong/menyelamatkan kita atau ummat, bahkan bisa saja membuat kebijakan yang lebih baik lagi bagi para langganan CL.

Sampai akhirnya, setelah saya renungi, saya jadi merasa bersalah sebagai ibu hamil atau mewakili para ibu hamil lainnya, apakah kami semerepotkan itu ya. Baiklah, mungkin saya pun lebih mengadaptasi apa keinginan-keinginan para ibu terhormat itu setidaknya untuk tidak merebut apa yang mereka sudah dapat. Dan tentu saja, sejak awal kehamilan saya, saya tidak pernah meminta, sampai akhirnya pernah pingsan dikit :D.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s