Menjadi Istri Shalihah

Pengajian Majelis Ta’lim Dharmawanita Sekretaris Jenderal Kemenkeu

Dalam rangka menyambut Tahun Baru Islam 1436 H

Selasa, 21 Oktober 2014, Lt. 18 Juanda 1, Sekretaris Jenderal

Pk. 09.00 – 12.00 WIB, oleh Ustadzah Fathia

Menjadi Istri yang Shalihah

Hijrah/Muharram menjadi momen yang tepat untuk hijrah. Hijrah berarti menuju hal-hal yang baik dan meninggalkan hal-hal yang kurang baik.

Bagi wanita karir baik yang sudah menikah (menjadi istri) maupun belum menikah (lajang), dalam momen Muharram/Tahun Baru Islam ini perlu berhijrah. Adapun hijrah yang harus dilakukan:

  1. Hijrah Aqidah/Hijrah Keyakinan
  • Tanamkan bahwa Allah adalah Maha/Segala-galanya. Jangan percaya dengan ramalan zodika atau hari penetapan hari baik . Percayalah bahwa semua hari itu baik, isi dengan amalan-amalan yang berpahala dan pahala sehingga yang lahir adalah kebaikan. Penilaian hari berdasarkan sikap kita sendiri. Jika kita mengisinya dengan kebaikan maka menjadi hari baik, jika mengisi dengan keburukan, jelas menjadi hari buruk. Nilailah hari sesuai dengan amalan kita sendiri.
  • Keyakinan bahwa Allah tidak pernah luput melihat amalan kita. Tidak perlu melapor ke anak (duh nak, mamah cape nak, capek…..) atau ke suami (kamu ga tau kan perjuangan aku ngejar absen gimanaaaa…). Yakinlah ketika mereka tidak merasakan apa yang kita rasakan, maka masih ada Allah yang benar-benar tahu detail “penderitaan” kita. Melapor ke Allah saja, jika kita banyak mengeluh maka akan mengikis amal pahala kita sendiri.
  • Anggap apa yang sudah kita berikan menjadi pancingan rezeki dari Allah. Memancing dengan umpan teri ya akan dapat ikan teri, memancing dengan umpan kakap ya akan dapat ikan kakap.
  • Jangan berlindung diri kepada Jin. Karena level jin berada di bahwa manusia. Bahkan jin berkomentar dalam Surat Jin, “Sesungguhnya banyak manusia berlindung kepada kami sehingga membuat kami menjadi GR dan membuat manusia semakin tersesat.”
  1. Hijrah Pemikiran

Menjadi istri sholehah dengan cara :

  • Menyenangkan suami – ekspresikan dengan kecantikan diri, sehingga menjadi enak dipandang oleh suami, mengeksplor kecantikan di rumah, bukannya di luar rumah. Bermanja dan curhat sama suami sendiri bukan sama suami orang. Tidak bersuara/bergaya dengan lebay dan mesra pada orang lain.
  • Perluas makna ibadah. Merubah pikiran bahwa ibadah bukan hanya sekedar sholat, puasa, haji, tapi jadikan aktivitas apapun itu menjadi ibadah. Jadikan peluang/waktu yang ada untuk ibadah kebada Allah. Termasuk bekerja di luar rumah diniatkan untuk ibadah.
  • Sikapi anak dan suami dengan kasih sayang (menjadi ibu penyayang), mau bekerja anak dielus kepalanya bukan malah dimarahi atau mau disentil kalau nangis ketika ibunya mau berangkat kerja. Begitu juga dengan suami, masa sama suami orang ramah dan santun tapi dengan suami sendiri galak dan cuek. Apalagi ketika hamil, jangan dijadikan peluang untuk ngerjain suami, tapi jadikan sebagai peluang untuk ibadah.
  • Tawadzun antara bekerja di luar dengan rumah. Tugas utama istri adalah menyenangkan suami, maka ketika mau kerja izin dulu dengan suami. Karena kita bukan siapa-siapa tanpa izin suami. Jangan pernah bangga punya penghasilan besar sedangkan izin kerja kita dari suami.
  • Anggap gaji istri adalah rezeki anak yang dititipkan oleh Allah kepada kita. Pahala memberi kepada anak, suami, kakak, adik dsb menjadi 2x, pertama pahala infaq/sedekah, kedua pahala silaturahim.
  • Tebar kebaikan karena kita tidak tau kebaikan mana yang bisa mengantarkan kita ke Syurga. Jangan pernah menganggap remeh apa (kebaikan) yang kita lakukan.
  1. Hijrah Khuluq/Hijrah Akhlaq
  • Adab Bertamu — Rasulullah ketika bertamu, setelah mengetuk pintu rumah tamunya selalu membelakangi pintu atau tidak pernah mengintip ke dalam rumah melalui kaca jendela atau lubang intipan dari pintu. Karena Rasulullah ingin menjaga atau memastikan bahwa si tamu dalam keadaan yang layak (baik) untuk menerima tamu. Misalnya tidak sedang buka jilbab, atau sedang menggunakan pakaian santai.
  • Adab terhadap Suami — Menerima nasihat suami dengan lapang, bukan malah balik menasihati atau ngomen “ah kamu juga begitu, dsb.
  • Adab terhadap orang lain — Setiap orang memiliki hak atas kita. Hak istri/suami/anak terhadap suami/istri/orangtuanya. Maka harus segera ditunaikan yang menjadi hak-hak orang lain (kewajiban kita).
  • Adab Makan — Gunakan tangan kanan saat makan, bukan dengan tangan kiri. Makan dengan tangan kiri berarti mengikuti langkah syaitan. Serta habiskan makanan yang sudah diambil, karena letak keberkahan sebuah makanan ada pada sisa terakhir.
  1. Hijrah Perasaan
  • Sensitif terhadap anak yatim yang tidak mampu.
  • Saling mengasihi dan menyayangi antar sesama. Beruntunglah orang-orang yang penuh kasih dan cinta, karena mereka akan menuai banyak kasih dan cinta juga.
  • Banyak mengelus kepala anak, mengusapnya.

Hijrah itu bukan hanya hijrah tempat, tapi hijrah meninggalkan sesuatu yang kurang baik menjadi baik.

Semoga bermanfaat.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s