Bertahan sebentar saja

Islam sudah mewanti-wanti kepada umatnya untuk senantiasa menjaga lidah/lisannya. Namun apadaya, biasanya yang dijaga ketat oleh agama malah menjadi sesuatu yang mudah dan nikmat untuk dilakukan. Apalagi dengan zaman sekarang yang teknologinya sudah canggih, berbagai program diciptakan untuk memancing manusia melampiaskan segala isi otak melalui lisannya (kata2) ke ranah publik tanpa menguras tenaga, materi dan malu. Facebook, twitter, skype, path, dan adalah deretan media social yang paling banyak digandrungi manusia di muka bumi ini, khususnya Indonesia tercinta.

Semakin seseorang memiliki banyak akun media social maka semakin banyak kata demi kata yang mampir di matanya. Bisa saja membawa dampak kebaikan seperti menambah pengetahuan, akan tapi tentu saja dampak negatifnya ga mau kalah mengiringi. Bagi yang menyadari, banyak akun membuat dirinya serasa orang yang menjadi objek yang dituju si pemosting. Pemilik akun lain lagi marah-marah, eh kita jadi ketularan spaneng ngebacanya, berasa kita yang dimarahi, ataupun klo ga merasa, ya paling tidak merasakan aura panas amarah gtu lhoo..Pemilik akun lain sedang sedih, kita pun ikut-ikutan menciptakan aura kesedihan bagi diri kita sendiri. Pemilik akun lain sedang jalan-jalan ke luar negeri (pamer poto) kita pun jadi senewen >_<. Pemilik akun lain sedang berbagi kebahagiaan, kita pun kadang ikut senang tapi mungkin malah banyak irinya >_<.

Kalau saja rasa nano-nano itu cukup di rasa saja, mungkin tidaklah tulisan ini tercipta. Masalahnya rasa nano-nano itu tidak hanya menyentuh rasa, tapi juga menginternalisasi dalam diri sehingga mempengaruhi tingkah dan sikap para pembaca bahkan si penulis/pemosting itu sendiri. Yang lebih sering terjadi adalah timbulnya rasa bersalah setelah berlisan/berkata2 di sosial media baik posting maupun sekedar komen. Dari rasa bersalah timbul kegundahan hati yang mempengaruhi kinerja/aktivitas harian, jadi males, murung, dan lemes. Belum lagi rasa-rasa di orang lain, sakit hati yang bisa saja berujung pelampiasan dendam kesumat.

Mungkin tulisan ini tepat ditujukan bagi si pemosting (status, artikel, berita, dsb) agar sebentar saja menahan lisannya (kata2) di ranah publik. Saya ga minta tidak boleh memosting, namun hanya meminta menahan sebentar agar dipikirkan dampaknya, kemudian menenangkan kelabilan hati/emosi. Bisa saja saat itu rasa hatinya sedang buruk, sehingga produksi katanya pun jadi ikut2-an buruk. Makanya saya hanya minta MENAHAN SEBENTAR SAJA. Hal ini berlaku juga bagi pemilik akun yang rajin berkomentar di media social. Yakin deh, dengan menahan sebentar, bisa jadi lisan/kata buruk kita tdk akan terproduksi, entah itu batal posting/komen atau memperbaiki kalimatnya dengan baik.

Sekali lagi, mariiii SEBENTAAAAR saja kita menahan untuk berlisan/berkata2 😉

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s