Si Baby Blues

Saya pikir, semua wanita melahirkan akan merasakan babyblues. Apa sih Babyblues? Saya aja baru tau istilah ini setelah sembuh darinya. Tenggelam dalam perasaan-perasaan yang menurut saya kok lebay amat yak. Terlalu paranoid. Saya menyadari kondisi tersebut, namun tetap saja tenggelam dalam rasa itu.

Semua berawal dari curcolku ke kakak Ipar, “kak, kok ides abis lahiran, manja banget ya ke suami, pengennya suami ada di samping terus, takut kehilangan, takut kenapa-kenapa, was-was khawatir dede kenapa-kenapa, masa depannya gimana. Sering nangis. Ih pokoknya lebay deh, perasaan sebelum lahiran biasa aja..”. Nah kakakku langsung komen, “iya itu namanya Babyblues, aku juga gitu kok dek”.

Cerita ke beberapa temen, ternyata sama juga nasibnya. Ngeshare di FB, banyak yang sependapat. Hoalah, ternyata memang wanita yang melahirkan merasakan babyblues.

Setelah engeh Babyblues, baru deh mengingat-ingat pengalaman sendiri.

5 hari setelah lahir, saya belum merasakan betul babyblues, karena suami terus mendampingi. Sampai akhirnya, suami masuk kerja (lembur) di hari Sabtu dan Ahad. Kok ya pas suami berangkat kepikiran suami kenapa-napa di jalan, perasaan takut suami menghilang dari saya (ya Allah), sampe beberapa kali bilang “Abi, hati-hati ya di jalan, jangan ngebut, makan yang banyak”. Saat ditinggal sendiri oleh suami suka nangis sendiri mikirin  suami, terus kalo liat dede, mikir yang macem-macem tentang dede, terus nangis lagi. (Kalo diinget lagi, ya ampuun -__-‘). Kemudian terpikir, kalo ada dede, apakah masih seromantis dulu, soalnya merasa lebih focus ke dede, mana tidurnya terhijab dede :D.

Gejala-gejala itu masih ada hingga suatu hari saya keluar rumah untuk urus pemberkasan CPNS. Alhamdulillaah, perjalanan singkat dengan papah dan adik (diantar dengan mobil, soale kondisi perut masih ngilu-ngilu karena jahitan :D) membuka sedikit keruwetan pikiran di otak. Cerah secerah langit di jendela mobil. Membuat kondisi hati menjadi lebih hangat dan nyaman. Beberapa kali keluar rumah, membuat kondisi psikologi semakin baik. Apalagi saat suami selalu bisa menenangkan diri ini ketika ketauan nangis di depan dia, atau selalu mendengarkan curhatan-curhatan ala Ummi baru, sampai  curhat tentang keterhijaban tidur dengannya. Akhirnya malamnya suami mengatur posisi tidur dede di pojok, selebihnya untuk ummi dan abinya :D. Refreshing di Mall juga membantu sekali menghilangkan si babyblues (waktu itu suami surprise membawa saya ke mall). Seiring dengan aktivitas baru (masuk kantor sebagai abdi Negara), Si Babyblues, benar-benar menghilang. Alhamdulillaah.

Mengingat terlambat mendeteksi Babyblues (padahal sebelum hamil, udah sedikit tau tentang babyblues, tapi masih belum menyadari, sampai akhirnya kejadian di diri), akhirnya setiap ketemu Bumil yang waktu lahirnya sudah dekat, saya selalu menyampaikan/menambahkan ilmu tentang Babyblues tersebut, apa dan bagaimana mengurangi “sakit” ini. Agar calon-calon Ibu tadi dapat mengantisipasi Babyblues yang berlebihan. Dan memesankan kepada mereka, agar para suami diberitahukan mengenai hal ini. Ini penting 😉

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s